FK UNTAN Gelar Pelatihan Penanganan Gigitan Ular untuk Tingkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat Kalbar
Pontianak, 13 Agustus 2025 — Gigitan ular berbisa masih menjadi ancaman kesehatan yang nyata di berbagai wilayah Kalimantan Barat, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di area hutan, taman nasional, atau daerah pedalaman. Minimnya pengetahuan mengenai penanganan awal sering kali memperburuk kondisi korban sebelum mendapatkan pertolongan medis.
Menjawab kebutuhan tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (FK UNTAN) mengadakan kegiatan “Peningkatan Kapasitas Masyarakat dalam Penanganan Awal Gigitan Ular” pada Rabu, 13 Agustus 2025. Kegiatan berlangsung secara hybrid—tatap muka di Ruang Amphitheater FK UNTAN dan daring melalui platform online—untuk menjangkau peserta yang bertugas di daerah konservasi atau lokasi terpencil.
Kolaborasi Multi-Sektor
Pelatihan ini diikuti oleh 114 peserta dari beragam latar belakang profesi, mulai dari petugas lapangan instansi pemerintah, tenaga kesehatan, hingga organisasi non-pemerintah (NGO) yang aktif di bidang lingkungan dan konservasi. Sejumlah instansi yang terlibat antara lain Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, serta aparat pemadam kebakaran.
Kegiatan ini juga menggandeng dua lembaga konservasi, yakni Yayasan Hutan Biru (Blue Forest). Kolaborasi tersebut memperluas jangkauan edukasi karena kedua lembaga telah lama bersentuhan langsung dengan masyarakat di wilayah pesisir dan hutan—daerah yang sering menjadi habitat berbagai spesies ular berbisa.
Materi dari Pakar Toksikologi dan Dokter Bedah
Sesi pembelajaran dimulai dengan paparan dari Dr. dr. Tri Maharani, M.Si., Sp.EM, pakar toksikologi dan dokter spesialis emergensi yang telah lama berkecimpung dalam penanganan gigitan ular di Indonesia. Dalam materinya, beliau menjelaskan jenis-jenis ular berbisa yang umum ditemukan di Kalimantan Barat, ciri-cirinya, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat diterapkan di lapangan.
Materi berikutnya dibawakan oleh dr. Robert Christeven, Sp.B, FICS, yang menyoroti prosedur penanganan cepat dan tepat terhadap luka gigitan ular. Tidak hanya teori, sesi ini juga dilengkapi dengan simulasi pertolongan pertama, termasuk teknik imobilisasi anggota tubuh yang tergigit. Para peserta tampak antusias mencoba langsung teknik tersebut di bawah bimbingan narasumber.
Antusiasme dan Dampak Nyata
Diskusi interaktif menjadi bagian paling menarik dari kegiatan ini. Peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar perbedaan gigitan ular berbisa dan tidak berbisa, serta strategi penanganan di daerah tanpa akses cepat ke fasilitas medis. Antusiasme ini menunjukkan besarnya kebutuhan akan pengetahuan yang benar mengenai penanganan gigitan ular di lapangan.
Hasil evaluasi singkat di akhir acara menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta setelah mengikuti pelatihan. Temuan ini menjadi indikator bahwa edukasi semacam ini memiliki dampak langsung dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan keselamatan masyarakat.
Komitmen Keberlanjutan
Melalui kegiatan ini, FK UNTAN menegaskan komitmennya dalam mendukung upaya pencegahan dan penanganan kasus gigitan ular di Kalimantan Barat. “Pemahaman yang benar sangat menentukan keselamatan korban. Dengan edukasi yang tepat, masyarakat dapat mengurangi risiko komplikasi maupun kematian akibat gigitan ular,” ungkap salah satu panitia penyelenggara.
Ke depan, FK UNTAN berencana memperluas jangkauan program ke komunitas-komunitas di daerah lain, termasuk kawasan perbatasan dan pedalaman. Upaya berkelanjutan ini diharapkan dapat membangun masyarakat yang lebih tanggap, sigap, dan berdaya dalam menghadapi ancaman gigitan ular.


