Peningkatan Kapasitas Tenaga Kesehatan RS UNTAN dalam Resusitasi Neonatal dan Mengatasi Burnout di Lingkungan Kerja
Pelayanan perinatologi merupakan bagian penting dari sistem pelayanan kesehatan, yang berfokus pada kesehatan bayi baru lahir usia 0-28 hari (neonatus), terutama yang berisiko tinggi. Salah satu gangguan kegawatan pada neonatus yang dapat mengancam jiwa adalah kegawatan nafas sehingga keterampilan melakukan resusitasi penting untuk dimiliki oleh tenaga kesehatan di unit perinatologi. Pada tahun 2024, IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) telah memperbarui panduan resusitasi neonatal dengan alur yang baru. Pemahaman tenaga kesehatan di RS Untan mengenai hal tersebut perlu ditingkatkan untuk memastikan pelayanan yang komprehensif dan dapat berkontribusi pada peningkatan kesehatan dan kelangsungan hidup bayi baru lahir.
Beban kerja tinggi akibat kondisi pasien dengan kondisi kritis yang membutuhkan pemantauan intensif selama 24 jam dan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat menyebabkan tenaga kesehatan yang bekerja di bagian Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dan perinatologi memiliki risiko burnout yang cukup tinggi. Burnout syndrome pada tenaga kesehatan di NICU dan perinatologi ditandai dengan kelelahan emosional, perasaan tidak berdaya, serta penurunan empati terhadap pasien. Dampak dari burnout tidak hanya menurunkan produktivitas dan kualitas pelayanan, tetapi juga meningkatkan risiko kesalahan medis. Sebagai bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), tim dosen dari Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura yang diketuai oleh dr. Wiwik Windarti, Sp.A melaksanakan kegiatan Peningkatan Kapasitas Tenaga Kesehatan Rumah Sakit Universitas Tanjungpura dalam Resusitasi Neonatal dan Mengatasi Burnout di Lingkungan Kerja. Dua orang dokter spesialis menjadi pemateri dalam kegiatan ini, yaitu dr. Wiwik Windarti, Sp.A. yang menyampaikan materi “Resusitasi Neonatus” sekaligus mendampingi kegiatan hands on ataulatihan, dan dr. Wilson, Sp.KJ. yang menyampaikan edukasi mengenai “Overcoming Burnout in Healthcare Workers: Strategies and Tips”. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan di RS Untan dalam kedua permasalahan tersebut.
“Workshop Resusitasi Neonatus sangat bermanfaat, materinya jelas, praktiknya aplikatif, dan meningkatkan kesiapan serta kepercayaan diri dalam menangani bayi baru lahir dengan kegawatdaruratan”, ujar Ria Nuriasih, salah seorang perawat unit NICU dan perinatologi. Di sisi lain, Devi, yang juga merupakan perawat di RS Untan mengatakan bahwa acara ini sangat membantu tenaga kesehatan untuk lebih memahami diri sendiri, meningkatkan kesadaran, dan mengatasi kelelahan mental dan fisik, sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien.

Melalui kegiatan ini diharapkan tenaga kesehatan di RS Untan mampu melakukan resusitasi neonatal dengan panduan terkini serta memiliki kemampuan coping dan regulasi emosi yang baik sehingga kesejahteraan tenaga kesehatan dapat tercapai yang menjadi sangat penting untuk menjaga kualitas layanan di unit NICU dan perinatologi serta mencegah kerugian sistemik akibat tidak terkendalinya burnout.


