Thetanjungpuratimes.com

UNTAN Wisuda 1.368 Lulusan, Buah Perjuangan Mahasiswa dan Doa Orang Tua

Pontianak — Universitas Tanjungpura (Untan) kembali menorehkan capaian akademik dengan meluluskan sebanyak 1.368 wisudawan pada Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2025/2026. Prosesi yang berlangsung dalam Rapat Terbuka Senat di Auditorium Untan ini dihadiri oleh pimpinan universitas, anggota senat, sivitas akademika, serta keluarga yang turut menyaksikan momen bersejarah tersebut. Dalam sambutannya, Rektor Universitas Tanjungpura, Prof. Dr. Garuda Wiko, S.H., M.Si., menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan beserta keluarga.  Di balik prosesi yang berlangsung khidmat itu, tersimpan ribuan cerita perjuangan yang mengantarkan para lulusan hingga ke hari wisuda.

Bagi setiap wisudawan, toga yang dikenakan bukan hanya simbol kelulusan, tetapi juga saksi perjalanan panjang yang penuh tantangan, pengorbanan, dan harapan. Tepuk tangan bergema di Auditorium Universitas Tanjungpura ketika satu per satu lulusan melangkah menuju panggung. Senyum mengembang di wajah para wisudawan dan keluarga yang hadir menyaksikan momen bersejarah tersebut. Namun, di balik toga yang tampak rapi, tersimpan perjalanan panjang yang tidak selalu mudah tentang rasa takut tertinggal, perjuangan membagi waktu, keberanian mengambil peluang, hingga doa orang tua yang tak pernah putus mengiringi langkah anak-anak mereka.

Bagi Ryan Ivander Aldino, salah satu wisudawan berprestasi, tantangan terbesar selama kuliah datang saat menyelesaikan skripsi. Ia mengaku sempat merasa tertinggal karena teman-teman seangkatannya lebih dulu melaksanakan seminar proposal.

“Teman-teman saya banyak yang sempro di Februari, sedangkan saya baru Maret. Kelihatannya cuma selisih sebulan, tapi rasanya sangat tertekan karena harus mengejar skripsi dan wisuda,” ujarnya.

Perasaan tertinggal itu sempat membuatnya khawatir. Namun, ia memilih untuk tetap fokus menyelesaikan skripsi, konsisten berkonsultasi dengan dosen, dan menjaga semangat hingga proses akhir. Hasilnya justru di luar dugaan. Meski memulai lebih lambat, Ryan berhasil menjadi salah satu mahasiswa pertama di angkatannya yang menjalani sidang skripsi.

“Jangan pernah takut terlambat. Selama kita fokus dan sungguh-sungguh, proses itu tetap bisa membawa kita sampai tujuan,” katanya.

Ryan juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menyia-nyiakan masa kuliah. Menurutnya, status mahasiswa membuka banyak kesempatan yang belum tentu bisa diperoleh setelah lulus, mulai dari lomba, organisasi, kepanitiaan, hingga berbagai program pengembangan diri.

Pengalaman Ryan menunjukkan bahwa perjalanan kuliah bukan perlombaan siapa yang paling cepat, melainkan bagaimana setiap mahasiswa memaksimalkan kesempatan yang dimiliki.

Pandangan serupa disampaikan Risna Nur Saphira dari Program Studi Pembangunan Sosial, FISIP UNTAN. Selama kuliah, ia tidak hanya menjalani perkuliahan, tetapi juga bekerja, berorganisasi, dan aktif dalam berbagai kegiatan prestasi, termasuk Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW).

Ia mengakui bahwa membagi waktu antara akademik, organisasi, kegiatan, dan pekerjaan bukan hal yang mudah. “Awalnya sangat struggle. Tapi ketika kita memilih sesuatu, kita harus bertanggung jawab menyelesaikannya dengan baik,” tutur Risna. Menurutnya, kunci utama adalah menentukan prioritas dan tidak melupakan peran utama sebagai mahasiswa.

“Jangan menganggap status mahasiswa membatasi kita untuk berkembang. Justru masa menjadi mahasiswa adalah kesempatan untuk mencoba banyak hal,” ujarnya.

Risna juga berpesan agar mahasiswa berani keluar dari rasa takut dan ragu. Baginya, kesempatan yang datang selama kuliah tidak akan selalu hadir untuk kedua kalinya.

“Masa menjadi mahasiswa tidak akan terulang. Jangan takut gagal, karena dari kegagalan kita belajar mengenal diri sendiri,” tambahnya.

Meski memiliki perjalanan yang berbeda, Ryan dan Risna sama-sama meyakini bahwa masa kuliah adalah ruang untuk bertumbuh dan mengeksplorasi potensi diri. Sementara itu, bagi Nathasa Areza dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), momen wisuda menjadi lebih istimewa karena dirayakan bersama keluarga besarnya. Kehadiran orang tua, saudara, dan kerabat yang datang memberikan dukungan menjadi bukti bahwa keberhasilanmenyelesaikan pendidikan bukan hanya milik dirinya, tetapi juga buah dari doa dan perjuangan keluarga yang selalu menyertai. Di balik toga yang dikenakannya hari itu, Nathasa mengaku sosok yang paling berpengaruh selama menjalani perkuliahan adalah sang mama. Dukungan sederhana yang terus diberikan menjadi penyemangat ketika menghadapi berbagai tantangan selama menempuh studi.

“Mama selalu bilang, ‘Ayo semangat, sedikit lagi selesai.’ Itu yang membuat saya terus maju,” ujarnya sambil tersenyum.

Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana, Nathasa berharap semangat yang sama juga dimiliki mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan pendidikan.

“Semangat, kalian pasti bisa selesai dan bisa wisuda,” pesannya.

Kebahagiaan pada hari itu juga dirasakan sang ibu yang menyaksikan putrinya menyelesaikan perjalanan akademik. “Sangat bahagia, terharu, dan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Alhamdulillah,” ungkapnya. Ia berharap ilmu yang diperoleh Nathasa dapat menjadi bekal untuk memberikan manfaat, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Hal serupa dirasakan Ibu Yenny, orang tua Ryan yang datang untuk menghadiri wisuda putranya. Ia mengenang Ryan sebagai anak yang aktif mengikuti berbagai organisasi sejak awal kuliah.

“Ryan aktif sekali, banyak organisasi yang dia ikuti,” katanya.

Harapannya sederhana agar anaknya menjadi pribadi yang sukses, berbakti kepada orang tua, dan bermanfaat bagi keluarga serta lingkungan sekitar. Bagi para orang tua, wisuda bukan sekadar seremoni akademik.

Momen itu adalah buah dari perjalanan panjang yang mereka saksikan dari dekat dari tugas-tugas kuliah, organisasi, skripsi, hingga hari ketika anak mereka akhirnya berdiri di panggung wisuda. Perjalanan Ryan yang sempat merasa tertinggal, semangat Risna memanfaatkan setiap peluang selama menjadi mahasiswa, serta rasa haru Nathasa dan kedua orang tua mereka menunjukkan bahwa setiap toga memiliki kisahnya sendiri.

Wisuda bukan hanya tentang memperoleh gelar akademik, melainkan tentang keberanian menghadapi tantangan, dukungan orang-orang terdekat, dan keyakinan bahwa setiap proses akan menemukan waktunya masing-masing. Hari itu, di tengah riuh tepuk tangan dan kilatan kamera, para wisudawan UNTAN tidak hanya merayakan akhir masa kuliah. Mereka juga merayakan perjalanan panjang yang ditempuh bersama keluarga, sahabat, dan orang-orang yang tak pernah berhenti percaya pada mereka.