Thetanjungpuratimes.com

Program “English for Empowerment” Sukses Berdayakan Anak Binaan LPKA Sui Raya Kubu Raya

Kubu Raya, Kalimantan Barat — Program English for Empowerment: Penguatan Diri bagi Anak melalui Pembelajaran Bahasa Inggris dan Aktivitas Kreatif di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Sui Raya, Kabupaten Kubu Raya, resmi ditutup pada akhir Oktober setelah berjalan selama empat bulan berturut-turut, mulai Juli, Agustus, September, hingga Oktober. Program yang diinisiasi oleh dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa Seni dan Kejuruan Universitas PGRI Pontianak diantaranya: Dian Shinta Sari, M. Pd, Dr. Dayat M.Pd, Desi Sri Astuti, M.Pd, Maliqul Hafis, M.Pd, dan Sahrawi M.Pd serta mahasiswa yang terlibat langsung diantaranya: Hafiz Akbar, Riyan Hidayat, Agung dan Ferdy Kurniawan yang juga melibatkan mitra langsung pengelola LPKA, anak binaan, serta tim akademik kampus.

Program ini lahir dari perhatian terhadap perlunya pembinaan berbasis pendidikan dan psikososial bagi anak binaan. Bahasa Inggris dipilih bukan hanya sebagai mata pelajaran, tetapi juga sebagai media untuk membangun kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, kerja sama tim, dan kesadaran akan potensi diri.

Melalui kolaborasi yang dibangun sejak awal tahun akademik, tim dosen dan mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa Seni dan Kejuruan Universitas PGRI Pontianak, melakukan observasi dan perencanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan karakter serta kebutuhan anak binaan. Kurikulum kegiatan dirancang dengan pendekatan fun learning dan active engagement agar pembelajaran berlangsung menyenangkan, bukan menekan.

Selama empat bulan, pertemuan dilaksanakan secara rutin dan menggunakan metode yang variatif. Setiap sesi memiliki tujuan pembelajaran akademik sekaligus tujuan pembinaan karakter. Bentuk kegiatan antara lain: pengenalan kosakata (vocabulary building) melalui permainan edukatif, role play untuk melatih keberanian berbicara dan kerja sama, storytelling untuk melatih ekspresi dan kelancaran tutur, latihan percakapan (daily expressions) untuk membangun kemampuan komunikasi, proyek kreatif seperti poster motivasi dan mini-drama Bahasa Inggris, serta sesi refleksi diri untuk menumbuhkan kesadaran diri dan keyakinan akan perubahan positif.

Sejumlah peserta yang awalnya enggan berbicara dan kurang percaya diri secara perlahan menunjukkan perubahan positif. Mereka mulai berani tampil di depan kelas, menyampaikan pendapat, dan menunjukan antusiasme terhadap kegiatan yang diikuti.

Pihak LPKA menilai program ini sangat membantu proses pembinaan. Pembelajaran disampaikan dengan pendekatan humanis yang membuat anak binaan merasa dihargai dan didukung, bukan dihakimi.

“Kami sangat puas dengan program ini. Anak-anak terlihat jauh lebih percaya diri, kritis, berani mengungkapkan pendapat, dan menunjukkan kemampuan mereka secara positif. Pembinaan seperti ini sangat kami apresiasi. Kami berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut bahkan menjadi agenda rutin tahunan,” ungkap pengelola LPKA bapak Aries.

Pihak pengelola juga menyampaikan bahwa kegiatan pendidikan seperti ini membantu peserta menjalani masa pembinaan dengan lebih produktif, fokus pada perbaikan diri, dan memiliki pandangan hidup yang lebih optimis.

Dalam sesi penutupan, tim dosen dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa Seni dan Kejuruan Universitas PGRI Pontianak, menyampaikan terima kasih atas kemitraan dan fasilitas yang diberikan pihak LPKA. Kerja sama yang solid dinilai menjadi faktor penting kelancaran kegiatan.

“Setiap anak memiliki potensi dan kesempatan kedua untuk menjadi lebih baik. Sekelam apa pun masa lalu, masa depan gemilang adalah hak bagi siapa saja yang ingin berubah. Yang terbaik bukanlah mereka yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi mereka yang pernah melakukan kesalahan lalu memperbaikinya,” tegas Dian Shinta Sari M.Pd selaku ketua panitian PKM dalam sambutannya.

Kata-kata tersebut mendapat respons emosional dari para peserta yang selama kegiatan telah menunjukkan transformasi sikap, motivasi, dan karakter.

Program ini bukan hanya memberi dampak pada anak binaan, tetapi juga pada mahasiswa. Mereka belajar menerapkan teori pengajaran bahasa Inggris dalam konteks sosial yang nyata sekaligus berlatih empati, komunikasi interpersonal, dan pembelajaran humanis. Banyak mahasiswa mengakui bahwa melalui kegiatan ini mereka merasakan secara langsung bagaimana pendidikan dapat menyentuh kehidupan seseorang dan menjadi jembatan perubahan.

Acara penutupan diakhiri dengan pemberian sertifikat partisipasi kepada seluruh anak binaan sebagai bentuk apresiasi atas keberanian, komitmen, dan perkembangan positif mereka selama mengikuti program.

Ke depan, baik pihak LPKA maupun tim Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa Seni dan Kejuruan Universitas PGRI Pontianak, menyatakan kesiapan untuk menjalin kolaborasi lanjutan. Tahap berikutnya direncanakan akan memperluas bentuk kegiatan, termasuk pelatihan literasi digital, public speaking, dan life motivation workshop untuk penguatan kognitif dan karakter.